Tenggelam, Bergeser, atau Bertumbuh? Memulihkan Mangrove di Kawasan Permukiman Pesisir yang Rentan

In-depth   /   25 Jul 2022

Tenggelam, Bergeser, atau Bertumbuh? Memulihkan Mangrove di Kawasan Permukiman Pesisir yang Rentan

Desa Timbulsloko, Sayung – Demak. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
Desa Timbulsloko, Sayung – Demak. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
Desa Timbulsloko, Sayung – Demak. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
Desa Timbulsloko, Sayung – Demak. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF

Desa Timbulsloko seperti akan tenggelam. Saat air pasang, air laut memasuki rumah warga, merendam lantai dan perabotan rumah. Ketika gelombang badai dan hujan lebat datang, banjir makin parah, rumah-rumah dan jalan pun terendam. Jalanan aspal desa kini sudah tidak bisa dilewati karena terendam air.

Penduduk Desa Timbulsloko kini harus membangun kembali rumah mereka menjadi rumah panggung untuk beradpatasi dengan kenaikan air laut. Jembatan dibangun untuk mempermudah ruang gerak mereka, sehingga tidak perlu mengandalkan perahu atau berenang. Kini sepeda motor harus diparkir di dataran yang lebih tinggi, sedangkan area di samping rumah sekarang menjadi tempat parkir perahu.

Permukiman di Kabupaten Demak ini – di pesisir Jawa Tengah, Indonesia – dulu memiliki lahan sawah yang luas dan dikenal karena wilayah delta sungainya yang subur. Kawasan mangrove hijau yang luas melindungi desa dari gelombang dan pasar surut air laut, serta menjadi sumber makanan dan habitat yang dapat diandalkan untuk ikan dan hewan laut lainnya. Tetapi dalam beberapa dekade terakhir, penduduk desa malah menebang pohon di sepanjang garis pantai dan mengubah sawah menjadi tambak untuk budidaya udang dan bandeng [Chanidae chanos], semua karena terpikat potensi mendapatkan keuntungan secara cepat.

Sejak saat itu, desa pun mulai mengalami abrasi dan banjir, dan saat ini ketinggiannya telah berada di bawah batas laut. Nelayan lokal pun terdampak, hasil tangkapannya menurun drastis seiring menghilangnya habitat mangrove, mengancam mata pencaharian mereka.

Menghadapi hal ini, sebagian warga memutuskan untuk pindah dan menghindari kerugian lebih banyak.

Aerial view of village that surrounded by the sea. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF

Tetapi beberapa masih bertahan dan berharap dengan memulikan mangrove, mereka dapat menyelamatkan Timbulsloko

Di tengah laut, mereka membuat barikade dari balok beton untuk melindungi bibit mangrove sampai cukup kuat untuk berdiri sendiri melawan ombak dan arus yang menerjang. Mereka juga mempraktikan teknik hybrid engineering untuk membuat struktur lolos air (permeable structure) dari bahan-bahan alami. Struktur lolos air berfungsi untuk melemahkan kekuatan ombak yang mengalir ke dalam, serta mengendapkan sedimen yang secara perlahan akan membangun tebing di belakang struktur yang dapat melindungi mangrove dari hantaman selanjutnya.

Sistem hybrid rehabilitasi mangrove, yang menggunakan bambu untuk membantu membentuk sedimentasi. Foto oleh Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
 

Tim peneliti multidisiplin dari Center for International Forestry Research – World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), Universitas Diponegoro dan Yayasan Hutan Biru berharap dapat membantu Demak mengatasi krisis ini melalui proyek Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation (ReCLAIM) yang berfokus pada restorasi mangrove berbasis bukti (evidence-based) untuk meningkatkan mata pencaharian, ketahanan pangan dan manfaat gizi bagi penduduk di area pesisir. ReCLAIM merupakan proyek kolaboratif antara CIFOR-ICRAF dan beberapa mitra dari Indonesia yang mewakili universitas, lembaga pemerintah dan masyarakat sipil dengan dukungan dari Yayasan David dan Lucile Packard.

 
 

Bersamaan dengan proyek di Demak (yang dipilih untuk mewakili mangrove yang direstorasi), ReCLAIM juga diimplementasikan di dua area pesisir lain: satu di Kota Serang dan Kabupaten Serang, Banten, yang mewakili mangrove yang dilindungi, dan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang mewakili mangrove yang sehat.

 
 

“Ekosistem mangrove agak unik dalam hal sistem sosio-ekologis yang disediakan,” ujar Ilmuwan CIFOR-ICRAF, Rupesh Bhomia. “Mengatasi perubahan iklim itu penting; sama pentingnya dengan menangani adaptasi; tetapi kesehatan dan nutrisi masyarakat juga sangat penting, dan banyak proyek yang gagal dalam memahami dan mengapresiasi kepingan ketiga dari puzzle ini.”

 
 

Di Timbulsloko, para peneliti melakukan kajian mengenai tingkat perubahan permukaan dan mencoba menemukan penyebabnya. “Kemungkinan, perubahan ini terjadi karena ada kenaikan permukaan laut, tapi ada kemungkinan yang lain, yaitu penurunan permukaan tanah,” kata Ilmuwan Utama CIFOR-ICRAF, Daniel Murdiyarso dalam video yang menjelaskan proyek riset di Desa Timbulsloko. “Jadi, mana yang benar? Kami ingin mengukurnya untuk menentukan penyebab dari fenomena ini.”  Untuk itu, para peneliti menggunakan rod surface elevation table (RSET) untuk memantau perubahan sedimen tanah. Alat yang ditancapkan ke tanah tersebut membantu melacak permukaan tanah yang terakumulasi atau terkikis dari waktu ke waktu.

 
 
Mangrove restoration behind seawalls. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga
CIFOR research team carries out carbon stocks measurement and RSET installation. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga
Carbon Stocks Measurement and Rod Surface Elevation Table (RSET) Installation. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF

Metode ini juga membantu para peneliti untuk mengukur penyimpanan karbon bawah tanah – pada saat bersamaan mereka juga mengukur penyimpanan di atas tanah dengan mengukur diameter pohon. Restorasi mangrove di lokasi seperti ini berkontribusi dalam membantu penduduk beradaptasi dengan isu perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, dan peristiwa cuaca yang lebih ekstrem, sambil memitigasi dan memperlambat proses perubahan iklim.

Mengatasi perubahan iklim itu penting; sama pentingnya dengan menangani adaptasi; tetapi kesehatan dan nutrisi masyarakat juga sangat penting, dan banyak proyek yang gagal dalam memahami dan mengapresiasi kepingan ketiga dari puzzle ini

Rupesh Bhomia, Ilmuwan CIFOR-ICRAF
A fish farmer. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga
A fisherman, Banyuwangi. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
Lindur flour, which is processed from the fruit of the Bruguera gymnorhiza mangrove tree. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga
A fish farmer. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga
A fisherman, Banyuwangi. Photo by Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
Lindur flour, which is processed from the fruit of the Bruguera gymnorhiza mangrove tree. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga

“Secara umum, mangrove yang sehat dapat menahan sedimen yang terbawa air laut dan mengurangi kekuatan ombak, jadi biasanya tinggi tanah akan terus meningkat – dan dalam prosesnya, kita mendapatkan penyimpanan karbon yang bagus,” jelas Bhomia. Secara global, mangrove diperkirakan menampung sekitar 1,6 persen biomassa hutan tropis, walau hanya menduduki 0,6 persen dari area hutan tropis, mereka dapat menyimpan karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis. Memulihkan dan melestarikan mangrove dapat melindungi 18 juta orang dari banjir pesisir dan meningkatkan produktivitas perikanan.

Untuk itu, para peneliti juga mempelajari pengaruh keberadaan mangrove terhadap kesehatan dan nutrisi masyarakat, termasuk ketahanan pangan, mata pencaharian, asupan zat gizi makro dan mikro dan perbedaan pola makan. Ekosistem mangrove juga menawarkan berbagai layanan untuk masyarakat sekitar, termasuk perikanan – dan pembibitan ikan – yang memberikan sumber protein dan zat gizi mikro, serta menyediakan peluang mata pencaharian untuk masyarakat.

Masyarakat juga memanfaatkan hasil hutan mangrove untuk produk kayu, kayu bakar, pengobatan, kerajinan dan masih banyak lagi.

Daun dan buah dari pohon mangrove juga dapat dikonsumsi, dan beberapa warga mengeringkan dan menggilingnya untuk dijadikan tepung yang kemudian dibuat menjadi produk olahan.

Di setiap lokasi penelitian, para peneliti melakukan penilaian kerentanan pantai yang meliputi tiga dimensi: paparan terhadap tekanan, sensitivitas terkait dan kapasitas adaptif. Penilaian ini juga memperhitungkan berbagai variabel, termasuk geomorfologi, perubahan garis pantai, kemiringan pantai, kisaran pasang surut, rata-rata permukaan laut, tinggi gelombang, keterlibatan stakeholder dan kesadaran masyarakat.

Mereka juga mengadakan survei sosial-ekonomi yang mengkaji kontribusi mangrove terhadap pendapatan penduduk sekitar, ketahanan pangan dan pemenuhan nutrisi. Survei ini juga mempertimbangkan dinamika gender yang mungkin berbeda dari satu tempat ke tempat lain, sebagai contoh, di Banyuwangi, kaum perempuan biasanya berperan dalam mengumpulkan kerang, termasuk tiram, sedangkan di Demak, kegiatan menangkap ikan biasanya dilakukan oleh pria, dan kaum perempuan biasanya hanya terlibat dalam aktivitas pasca penangkapan, seperti memilah, menjual dan memproses ikan. Di dua lokasi ini, ibu biasanya bertanggung jawab dalam mengatur anggaran belanja bahan makanan dan memutuskan apa yang harus dibeli.

 

Kemungkinan, perubahan ini terjadi karena ada kenaikan permukaan laut, tapi ada kemungkinan yang lain, yaitu penurunan permukaan tanah

Daniel Murdiyarso, Ilmuwan Utama CIFOR-ICRAF

Masyarakat juga memanfaatkan hasil hutan mangrove untuk produk kayu, kayu bakar, pengobatan, kerajinan dan masih banyak lagi.

Tepung lindur, yang diolah dari buah mangrove Bruguera gymnorhiza. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga

Kerupuk dari tepung lindur. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga

Daun dan buah dari pohon mangrove juga dapat dikonsumsi, dan beberapa warga mengeringkan dan menggilingnya untuk dijadikan tepung yang kemudian dibuat menjadi produk olahan.

Mufidah, a batik artisan, uses mangrove tree trunks as natural dyes for the batik she produces. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga

Kain batik dengan motif pohon mangrove lengkap dengan akarnya. CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga

Di setiap lokasi penelitian, para peneliti melakukan penilaian kerentanan pantai yang meliputi tiga dimensi: paparan terhadap tekanan, sensitivitas terkait dan kapasitas adaptif. Penilaian ini juga memperhitungkan berbagai variabel, termasuk geomorfologi, perubahan garis pantai, kemiringan pantai, kisaran pasang surut, rata-rata permukaan laut, tinggi gelombang, keterlibatan stakeholder dan kesadaran masyarakat.

Mereka juga mengadakan survei sosial-ekonomi yang mengkaji kontribusi mangrove terhadap pendapatan penduduk sekitar, ketahanan pangan dan pemenuhan nutrisi. Survei ini juga mempertimbangkan dinamika gender yang mungkin berbeda dari satu tempat ke tempat lain, sebagai contoh, di Banyuwangi, kaum perempuan biasanya berperan dalam mengumpulkan kerang, termasuk tiram, sedangkan di Demak, kegiatan menangkap ikan biasanya dilakukan oleh pria, dan kaum perempuan biasanya hanya terlibat dalam aktivitas pasca penangkapan, seperti memilah, menjual dan memproses ikan. Di dua lokasi ini, ibu biasanya bertanggung jawab dalam mengatur anggaran belanja bahan makanan dan memutuskan apa yang harus dibeli.

Umumnya, kaum perempuan dan anak-anak adalah anggota keluarga yang paling rentan akan kekurangan gizi. Oleh karena itu, kaum perempuan dan anak-anak adalah target responden yang diwawancarai untuk mengkaji elemen gizi dalam proyek ini. “Ikan dan spesies laut lain yang hidup di sekitar mangrove merupakan sumber gizi yang penting yang diperlukan perempuan usia subur dan anak-anak. Mangrove memberikan spesies laut tempat pembibitan dan persembunyian, tapi peran mangrove dalam ketahanan pangan dan pemenuhan nutrisi masih jarang diketahui. Oleh karena itu, dalam studi ini kami mengumpulkan data yang akan digunakan untuk menyoroti peran mangrove untuk mata pencaharian, ketahanan pangan dan nutrisi bagi masyarakat yang kehidupannya bergantung pada mangrove,” jelas Mulia Nurhasan, Ph.D., Ilmuwan Pangan dan Nutrisi di CIFOR.

Untuk komponen mata pencaharian, survei tersebut berfokus pada anggota keluarga yang memancing di sekitar mangrove, untuk mencoba menemukan nilai yang dihasilkan dari kegiatan ini dan kontribusinya terhadap ekonomi rumah tangga. “Di Banyuwangi, nelayan setempat mempunyai pepatah ‘Akeh tanjange, keh picise’, yang berarti makin banyak mangrove, makin banyak uang. Mereka menyadari manfaat mangrove yang sehat untuk mata pencaharian mereka, dan kami ingin belajar dari mereka,” tambah Nurhasan.

Rumah yang masih ditempati dengan jembatan kayu. Foto oleh Aulia Erlangga/CIFOR-ICRAF
A woman in Banyuwangi, Indonesia. Photo by CIFOR

Umumnya, kaum perempuan dan anak-anak adalah anggota keluarga yang paling rentan akan kekurangan gizi.

Seiring berjalannya proyek ReCLAIM, para peneliti melihat hubungan yang erat antara mangrove sehat dan kerentanan pesisir, dan mengevaluasi potensi restorasi dan mitigasi di wilayah seperti Demak. Namun, masih belum jelas apakah penduduk yang tersisa di Timbulsloko akan dapat terus tinggal di rumah mereka tercinta – atau rumah-rumah ini nantinya akan tenggelam di dasar laut, seperti Atlantis.

A healthy section of mangrove forest. Photo by CIFOR-ICRAF/Aulia Erlangga

Pengembangan cerita: Monica Evans | Penyunting: Julie Mollins | Produksi video: Aris Sanjaya | Desain web: Gusdiyanto | Koordinasi publikasi: Budhy Kristanty

The post Tenggelam, Bergeser, atau Bertumbuh? Memulihkan Mangrove di Kawasan Permukiman Pesisir yang Rentan appeared first on CIFOR Forests News.


See the rest of the story at mysite.com

Related:
Sink, shift, or sprout? Restoring mangroves in vulnerable coastal settlements
Coalición científica: Detener la pérdida de la biodiversidad requiere una acción integrada y ambiciosa
REDD+ lessons from Peru


source https://forestsnews.cifor.org/78581/tenggelam-bergeser-atau-bertumbuh-memulihka-mangrove-di-kawasan-permukiman-pesisir-yang-rentan?fnl=enid

Post a Comment

Previous Post Next Post