Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas

Indonesia adalah negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, dengan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati. Kepulauan Nusantara merupakan salah satu dari 17 negara mega-diversity, dan rumah dari 2 dari 25 hotspot dunia. Namun, pada 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan yang terburuk dalam dua dekade terakhir. Pada September dan Oktober 2015, emisi karbon yang disebabkan kebakaran hutan mencapai 11,3 juta ton per hari – lebih tinggi dibandingkan emisi dari seluruh Uni Eropa pada periode yang sama, yaitu 8,9 juta ton setiap hari.  

Menanggapi bencana tersebut – dan sebagai bagian dari upaya untuk merestorasi 14 juta hektare lahan terdegradasi, termasuk 2 juta hektare lahan lahan gambut – Pemerintah Korea dan Indonesia telah membuat proyek restorasi lahan gambut yang berfokus pada ‘3R’: rewetting (membasahi ulang), revegetation (revegetasi) dan revitalization (revitalisasi). Kegiatan tersebut meliputi membasahi ulang infrastruktur, melakukan revegetasi lebih dari 200 hektare dengan penanaman pohon dan revitalisasi lahan di 10 desa sekitar situs proyek, serta membangun pusat pendidikan lahan gambut kecil.  

“Kami percaya bahwa proyek restorasi lahan gambut akan membentuk ekosistem yang berkelanjutan dan memberikan dampak produktif untuk masyarakat, “ ujar Junkyu Cho, Co-Direktur Korea-Indonesia Forest Cooperation Center (KIFC), dalam simposium yang diadakan untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman dari inisiatif restorasi lahan gambut di beberapa daerah di Indonesia, pada 7 Desember 2022 di kampus CIFOR, Bogor. Simposium Internasional tersebut bertujuan untuk memperluas jaringan peneliti yang terlibat dalam restorasi dan tata kelola lahan gambut.  

Tim peneliti, yang datang dari National Institute of Forest Science (NIFoS) Korea dan Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), akan membangun model untuk restorasi lahan gambut dan lahan terdegradasi lainnya di Indonesia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara maksimal dan meningkatkan mata pencaharian lokal. 

“Kami berharap berbagai isu, seperti adaptasi perubahan iklim, solusis berbasis alam, dan bioekonomi akan dapat dieksplorasi sebagai bagian dari lahan gambut,” jelas Hyungsoon Choi, Direktur NIFoS Global Forestry Research Division. Para peneliti juga membantu membangun reboisasi dan usaha berbasis masyarakat yang berkelanjutan, jelas Peneliti Senior CIFOR-ICRAF, Himlal Baral.  

Pada saat simposium, Baral juga berbagi informasi mengenai proyek jangka panjang CIFOR-ICRAF Sustainable Community-based Reforestation and Enterprises (SCORE), yang berlangsung di periode yang sama dengan UN Decade on Ecosystem Restoration dan memberikan peluang berharga untuk penelitian. Penelitian tersebut mencakup mengidentifikasi area untuk restorasi dan untuk menanam hasil hutan kayu dan non-kayu yang berkelanjutan. “Kami memulai dengan uji coba demonstrasi berskala kecil dan mendapatkan dampak jangka panjang,” imbuhnya, menambahkan smart agroforestry merupakan salah satu opsi untuk restorasi.  

Nisa Novita, dari LSM lokal Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), juga membagikan beberapa penelitiannya mengenai potensi mitigasi solusi iklim untuk Indonesia. Timnya menemukan bahwa Indonesia menawarkan peluangan yang sangat besar untuk berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim dengan meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon melalui perlindungan, peningkatan pengelolaan dan restorasi ekosistem lahan kering, lahan gambut dan mangrove. “Melindungi, mengelola dan memulihkan lahan basah Indonesia adalah kunci untuk mencapai target pengurangan emisi pada 2030,” jelasnya.  

Beberapa pembicara lain juga berbagi mengenai model restorasi yang hemat biaya. A-Ram Yang dari Global Forestry Division NIFoS bercerita mengenai kunjungannya ke lanskap gambut di Perigi, Sumatra Selatan pada September 2022. Sementara itu, tim dari Kookmin Universitas Korea berbagi mengenai pengalaman mereka dalam menilai jasa ekosistem di hutan Korea Utara, dengan tujuan untuk mempraktikannya di Indonesia.  

Budi Leksono, Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berbicara mengenai potensi perbaikan genetik untuk mencapai tujuan restorasi. “Penggunaan bibit unggul untuk hutan telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produk hutan,” ujar beliau. “Sesuai dengan tujuan restorasi tumbuhan dan hutan Indonesia di lanskap hutan terdegradasi dalam skala besar, penggunaan bibit unggul harus diterapkan dalam program pemulihan lahan untuk meningkatkan nilai tambahan terhadap lahan dan akan memberikan dampak pada peningkatan ketahanan dan produktivitas ekologis.” 

 

Senada, kolaborasi penelitian antara Ilmuwan CIFOR-ICRAF dan Universitas Sriwijaya (UNSRI) juga mengembangkan model restorasi bentang alam untuk diterapkan pada berbagai spesies bernilai ekonomi tinggi, termasuk jelutung (Dyera costulata), belangeran (Shorea balangeran), nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan malapari (Pongamia pinnata). Agus Suwignyo, salah satu ilmuwan dalam proyek tersebut, menjelaskan, “Penggunaan bibit unggul untuk pemulihan lahan akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat jika proses penanamannya sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan komunitas lokal.”  

Petani yang berpartisipasi juga memilih spesies yang mereka inginkan, seperti nangka (Artocarpus heterophyllus), alpukat (Persea americana), mangga (Mangifera indica), nangkadak (persilangan nangka dan cempedak Artocarpus heterophillus dan Artocarpus integer), sawo (Manilkara zapota), jeruk (Citrus sp.), sirsak (Annona muricata), rambutan (Nephelium lappaceum) dan sirih atau pinang (Areca catechu). Sejak 2018 hingga 2020, UNSRI telah membantu petani setempat untuk mengembangkan agrosilvofishery cerdas, meningkatkan budidaya padi, memperkenalkan jenis tanaman padi ekonomis lainnya, menanam pohon dan membudidayakan berbagai spesies ikan lokal.  

Metode ini menunjukkan hasil yang positif. “Pada musim kemarau panjang 2018, lahan di sekeliling area dibakar oleh petani lain, tetapi plot demo kami tidak dibakar,” ujar Suwignyo. “Tahun ini, kami memperluas area menjadi 10 hektare.” Cerita ini senada dengan tema utama dalam simposium ini: pentingnya restorasi yang terencana dengan baik, multidisiplin dan berbasis bukti yang mengedepankan manusia dan alam.  

Penelitian ini didukung oleh National Institute of Fores Science, Republic of Korea; Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Biotifor); Pusat Reboisasi Hutan Hujan Tropis Universitas Mulawarman; Universitas Muhammadiyah Palangkaraya; Center of Excellence Riset Lahan Gambut di Universitas Sriwijaya.

The post Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas appeared first on CIFOR Forests News.


See the rest of the story at mysite.com

Related:
In DRC, Indigenous Peoples and local communities’ inclusion in REDD+ remains a work in progress
Finding common ground for community forest management in Peru
Energy transfer: How one woman scientist aims to spark enthusiasm in the next generation
Framing up the community-centred future of peatland management
For many Indigenous communities, land titles aren’t the same as tenure security
‘Koalisi Sukarela’ Membawa Agroekologi Maju ke Simposium Asia Pasifik mengenai Transformasi Sistem Pertanian Pangan
L’Indonésie défend les partenariats public-privé à la COP27


source https://forestsnews.cifor.org/81396/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas?fnl=enid

Post a Comment

Previous Post Next Post