Retas Kesenjangan: Pengetahuan yang Diperlukan demi Suksesnya Dekade Restorasi Ekosistem PBB

Selain kesenjangan signifikan dalam informasi dan pengetahuan mengenai hambatan dan jalan menuju restorasi ekosistem dan perlindungan keanekaragaman hayati, penelitian terbaru juga menemukan ketidakseimbangan topik yang dikaji dan lingkup geografisnya.  

Dalam mencapai tujuan Dekade Restorasi Ekosistem PBB (Dekade PBB), menurut para peneliti, peningkatan penelitian dan penyempurnaan kebijakan serta praktik restorasi ekosistem di padang rumput, lahan kering, dan ekosistem mangrove – serta memperbanyak pendidikan, pemantauan, dan studi jangka panjang melalui peningkatan pendanaan – menjadi sangat penting. 

Studi Memetakan lanskap informasi Strategi Dekade Restorasi Ekosistem PBB ini, mengevaluasi 20 tahun publikasi mengenai restorasi ekosistem, termasuk hambatan dan jalan menuju solusi serta mendorong tindakan dan pemantauan jangka panjang. Studi ini mengevaluasi 6.023 item literatur terkaji dan abu-abu untuk menilai sejumlah bukti yang mendasari strategi Dekade PBB, yang dimulai pada 2021 sebagai kampanye global untuk mengkatalisasi upaya ‘menghentikan, mencegah, dan membalikkan degradasi’ ekosistem dunia. 

Jika tidak ditangani, menurut para peneliti, kesenjangan informasi yang signifikan akan menghambat keberhasilan upaya restorasi di masa depan, termasuk yang dilakukan melalui strategi Dekade PBB. 

Meskipun upaya restorasi dimulai di lapangan, kepemimpinan dan panduan aksi ditetapkan pada tingkat kebijakan tertinggi, tempat kesenjangan ini harus ditangani, kata Manuel Guariguata, salah satu penulis studi dan mitra senior di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF). 

“Dekade Restorasi Ekosistem PBB adalah strategi global, dan karenanya perlu dilakukan upaya untuk mengatasi kesenjangan yang tidak hanya bersifat geografis tapi juga tercermin dalam hambatan di jalan aksi dalam strategi,” katanya. 

Kesenjangan informasi dalam penelitian dan pemantauan jangka panjang dari proyek ekosistem menjadi “tantangan mendasar” yang disorot. Kurangnya pemantauan jangka panjang dan umpan balik dari upaya restorasi menyulitkan penilaian tindakan yang berhasil dan dapat ditingkatkan.  

“Hanya dengan meningkatkan jumlah bukti tentang apa yang telah dan belum dilakukan dalam restorasi ekosistem, kita bisa memperbaiki aksi di masa depan, memperluas skala intervensi dengan probabilitas yang cukup untuk mencapai hasil yang diharapkan, dan dengan demikian meningkatkan potensi restorasi ekosistem dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, memitigasi perubahan iklim dan mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati,” tulis studi tersebut. 

Restorasi ekosistem didefinisikan Dekade PBB adalah “pendekatan holistik untuk melestarikan ekosistem asli dan memperbaiki ekosistem terdegradasi atau rusak”, seraya bertujuan untuk mengatasi hambatan dalam implementasi restorasi ekosistem pada berbagai skala. Sehingga bisa berkontribusi mencapai sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs). 

Restorasi juga dipandang sebagai jalan untuk mencapai sejumlah tujuan dari ketiga Konvensi Rio: misalnya, Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD) COP15 yang berkomitmen untuk “percepatan restorasi satu miliar hektare lahan terdegradasi pada 2030”; Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada COP27, melengkapi dana kerugian dan kerusakan, memperbesar Dana Adaptasi hingga 230 juta dolar AS, memberikan ruang untuk kegiatan restorasi; serta Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB yang menekankan komitmen berkelanjutan untuk restorasi ekosistem pada akhir 2022 pada COP15. 

Strategi Dekade PBB mengidentifikasi tiga jalan aksi untuk mengatasi enam hambatan global yang dianggap menghambat eskalasi: keuangan, legislasi dan kebijakan lingkungan, penelitian ilmiah, kesadaran publik, kapasitas teknis, dan kemauan politik. 

Studi terbaru juga menemukan kesenjangan signifikan yang didorong oleh empasis berlebihan pada riset ekosistem hutan dan restorasi dibandingkan dengan penelitian yang berfokus pada padang rumput, lahan kering, dan mangrove, kata Guariguata. Lebih dari tiga perempat publikasi yang disurvei untuk makalah ini terfokus pada hutan (78%), sementara hanya sedikit yang membahas padang rumput (6%), lahan kering (4%) atau mangrove (2%). Publikasi mengenai upaya restorasi tanah juga kurang terwakili dalam kajian.  

“Pesan utama dari studi ini: lebih banyak informasi diperlukan untuk mendukung upaya restorasi di padang rumput, lahan kering, dan mangrove,” kata Guariguata. Selain itu, kurangnya ketersediaan dan distribusi geografis dari edukasi restorasi ekosistem adalah kekurangan yang serius, lanjutnya.  

“Temuan ini menggarisbawahi peluang integrasi, kerangka kerja pemantauan sistematis yang mencakup indikator bawah tanah dan permukaan di beragam ekosistem,” kata Leigh Winowiecki, Ketua Penelitian Global Kesehatan Tanah dan Lahan di CIFOR-ICRAF. “Apalagi terdapat kebutuhan nyata untuk menggabungkan pemantauan sistematis dengan ilmu kewarganegaraan untuk meningkatkan keterlibatan dari warga dalam pemantauan.” 

Studi menemukan, hambatan untuk meningkatkan restorasi seringkali terkait dengan keuangan, legislatif, atau kebijakan. Hambatan keuangan dan legislatif atau kebijakan lebih sering ditekankan (masing-masing 30% dan hampir 27%), dibanding hambatan penelitian ilmiah dan teknis/kapasitas (masing-masing 23% dan 19%). 

Temuan baru ini memberikan dukungan signifikan bagi Strategi Dekade PBB termasuk identifikasi hambatan utama untuk aksi restorasi, kata Robin Chazdon, mitra senior Inisiatif Restorasi Global dari World Resources Institute dan Profesor Riset di Universitas Sunshine Coast. “Studi ini mengidentifikasi masalah penting dan merangkai dengan baik sejumlah hal dalam menyelami item aksi untuk mengatasi kesenjangan yang teridentifikasi,” katanya. 

Misalnya, menyoroti begitu luasnya isu peningkatan kapasitas – yang dapat mencakup berbagai elemen dari pelatihan teknis hingga kapasitas organisatoris dan masalah tata kelola – diungkap, karena semuanya siginifikan terhadap keberhasilan kegiatan restorasi, kata Chazdon. 

______

Bacaan lebih lanjut 

______

Penelitian ini mendapat dukungan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). 

The post Retas Kesenjangan: Pengetahuan yang Diperlukan demi Suksesnya Dekade Restorasi Ekosistem PBB appeared first on CIFOR Forests News.


See the rest of the story at mysite.com

Related:
Seeing from all sides: Why we need more women in science
Toucans, tapir and tortoises: Revealing the biological riches of southern Guyana
Congo Basin: Need for more funding to let ‘lungs of Africa’ breathe
Are community rights being upheld in REDD+ safeguards processes and landscapes in East Kalimantan?
Nourishing leadership: Why gender matters in development science
In DRC, Indigenous Peoples and local communities’ inclusion in REDD+ remains a work in progress
Finding common ground for community forest management in Peru
Energy transfer: How one woman scientist aims to spark enthusiasm in the next generation
Framing up the community-centred future of peatland management
For many Indigenous communities, land titles aren’t the same as tenure security
Les plateformes et partenariats multipartites peuvent-ils tenir leurs promesses ?
Community rights and REDD+ in Indonesia
Seeking synergies to improve landscape management in southern Zambia


source https://forestsnews.cifor.org/82202/retas-kesenjangan-pengetahuan-yang-diperlukan-demi-suksesnya-dekade-restorasi-ekosistem-pbb?fnl=enid

Post a Comment

Previous Post Next Post