Mengapa Sekarang Saat yang Tepat untuk Pohon, Hutan, dan Agroforestri

Pada saat saya bergabung dengan The Center for International Forestry Research (CIFOR) pada 1999, organisasi ini baru berusia enam tahun, dengan 60 orang staf yang dari berbagai latar belakang ilmu dan mengemban suatu misi untuk membangun solusi bagi masalah-masalah yang terkait dengan hutan yang mengintegrasikan kepentingan sosial dan lingkungan. Indonesia, negara tuan rumah CIFOR, negara demokrasi terbesar ketiga pada tahun itu dan selanjutnya terus menunjukkan kepemimpinan dalam kemitraan yang telah berlangsung tiga dekade.

Mengingat situasi waktu itu, dunia internasional mulai berpikir untuk mengubah pandangan mereka tentang hutan dari semata-mata “pabrik kayu” ke pemikiran untuk mengenali nilai dan potensi sesungguhnya hutan untuk bisa mencapai berbagai target global. CIFOR selalu menolak padangan satu-solusi-tepat-untuk-semua (one-size-fits-all) untuk soal kehutanan. Prinsip-prinsip yang membedakan dari pandangan sebelumnya yaitu bahwa solusi tersebut harus mempertimbangkan kebutuhan manusia (termasuk kelompok perempuan dan kelompok marjinal), yang harus diketahui oleh para pemegang kebijakan bukan hanya oleh peneliti namun dengan masukan dari para pemangku kepentingan di berbagai tingkatan, dan strategi yang disusun harus melakukan pendekatan lanskap secara holistik dari konteks lokal-hal-hal yang sekarang sudah menjadi arus utama dalam penyusunan strategi.

Saat ini, hutan telah diketahui secara luas merupakan suatu ekosistem yang amat kompleks yang berada tepat di jantung persoalan-persoalan sumber air, mata pencaharian penduduk setempat, keamanan ketersediaan pangan dan nutrisi, dan keseimbangan iklim. Lahan basah dan mangrove-yang dulu dipandang sebagai lahan tidak bermanfaat yang dapat diubah menjadi peternakan udang-sekarang mulai dipahami sebagai cadangan karbon yang amat besar, kita harus berterima kasih pada penelitian-penelitian terobosan yang dilakukan CIFOR. Pohon bisa membuat oasis kelembaban dan keanekaragaman hayati (kehati) di daerah yang kering dan menjadi koridor untuk satwa liar di dalam suatu perkebunan. Dan era “konservasi adalah benteng” telah berlalu sejalan dengan hasil riset yang menunjukkan pentingnya kontribusi dari masyarakat adat pada konservasi kehati, penyerapan karbon, dan restorasi lanskap.

Riset hutan CIFOR telah lama menjangkau persoalan yang lebih luas. Riset komparatif global menyingkap fakta betapa pentingnya peran hutan terhadap mata pencaharian masyarakat lokal, yang secara langsung memengaruhi survei-survei tentang bagaimana Bank Dunia melakukan Pengukuran Standar Hidup. Penelitian-penelitian lebih baru membuka betapa pentingnya hutan dan makanan yang ada di dalamnya dalam hal kandung nutrisi, termasuk pemanfaatan berkelanjutan satwa dan tumbuhan liar. Bukti-bukti ilmiah, analisis, dan keahlian teknis telah mendukung  pembangunan kebijakan di tingkat nasional dan subnasional di antaranya yaitu tentang pengelolaan hutan, ekonomi hijau, aksi iklim, lahan basah, dan rantai nilai. Dan dari cikal bakalnya pada Hari Hutan yang pertama yang diadakan saat konferensi iklim PBB di Bali, Global Landscape Forum (GLF) telah berkembang menjadi sebuah gerakan global terdepan dalam hal lanskap berkelanjutan, sejauh ini telah menghubungkan lebih dari 1,7 miliar orang, dari para pemimpin muda sampai ke donor-donor besar multilateral.

World Agroforestry (ICRAF) juga melakukan pendekatan holistik yang dilakukan CIFOR untuk lanskap pertanian. Lebih dari 40 tahun, ICRAF telah berupaya menemukan keseimbangan antara pertanian dan lingkungan, menggunakan terminologi “agroforestri” untuk meningkatkan pengetahuan global akan peran penting pohon pada pertanian dan menekankan pentingnya mendasarkan solusi pada pendekatan pertanian ekologis dengan mempertimbangkan konteks.

Pada 2018 saat kami memutuskan untuk menyatukan kedua organisasi, banyak yang berpikir mengapa kami tidak melakukannya lebih cepat-terutama karena CIFOR memulai kerjanya di kantor ICRAF di Bogor, Indonesia. Setelah tiga tahun proses merger berjalan, organisasi baru kami CIFOR-ICRAF – sepenuhnya menjadi satu pada 2022 – menjadikan gabungan 75 tahun pengalaman  ke dalam suatu jaringan kemitraan di 60 negara, dengan lebih dari 730 staf yang berdedikasi membentuk arus diskusi global dengan temuan-temuan riset canggih dan aksi di tingkat tapak. Sebagai bagian dari merger, kami juga meluncurkan Resilient Landscapes, suatu langkah inovasi yang menjadi jembatan untuk suatu pandangan tindakan didorong-dampak (impact-driven) antara  sains dan bisnis, pembiayaan, pemerintahan, dan masyarakat sipil. Informasi terbaru, kami telah menyelesaikan lebih dari 2.200 proyek dengan nilai lebih dari 2 miliar dollar AS di 92 negara, dan menerbitkan lebih dari 25.000 produk riset-termasuk melalui situs, pemberitaan, kanal-kanal media sosial, dan berbagai acara.

Kerja yang sedemikian besar secara kolektif menyoroti potensi hutan, pohon, dan agroforestri untuk menanggapi tantangan global seperti perubahan iklim dan hilangnya kehati, juga mendukung untuk keamanan pangan dan penghasilan yang lebih berkelanjutan bagi mereka yang paling terpinggirkan. Berkolaborasi dengan kementerian, provinsi, dan pemerintah lokal, universitas, komunitas, organisasi non-pemerintah, kelompok-kelompok perempuan dan masyarakat adat, dan perusahaan swasta telah membantu kami dalam mengembangkan dan meningkatkan uji-lapangan, sesuai kebutuhan lokal, dan menjadi solusi jangka panjang.

The post Mengapa Sekarang Saat yang Tepat untuk Pohon, Hutan, dan Agroforestri appeared first on CIFOR Forests News.


See the rest of the story at mysite.com

Related:
Seeing from all sides: Why we need more women in science
Toucans, tapir and tortoises: Revealing the biological riches of southern Guyana
Congo Basin: Need for more funding to let ‘lungs of Africa’ breathe
Are community rights being upheld in REDD+ safeguards processes and landscapes in East Kalimantan?
Nourishing leadership: Why gender matters in development science
In DRC, Indigenous Peoples and local communities’ inclusion in REDD+ remains a work in progress
Finding common ground for community forest management in Peru
Energy transfer: How one woman scientist aims to spark enthusiasm in the next generation
Framing up the community-centred future of peatland management
For many Indigenous communities, land titles aren’t the same as tenure security
Las lecciones que los países que se proponen regular mercados de carbono pueden aprender de Perú
Understanding hidden, visible, and invisible forms of power necessary for environmental governance
Protected: Analyse des droits et garanties REDD+


source https://forestsnews.cifor.org/82740/mengapa-sekarang-saat-yang-tepat-untuk-pohon-hutan-dan-agroforestri?fnl=enid

Post a Comment

Previous Post Next Post