Bagaimana Infrastruktur Transportasi Berpengaruh pada Deforestasi di Amazon Peru

Penelitian terbaru memperkirakan bahwa hampir 2 juta hektare hutan primer di Amazon Peru ditebang dalam 20 tahun terakhir. Proses dinamis ini merupakan respons terhadap kondisi fisik, politik, sosial dan ekonomi di wilayah tertentu, di mana berbagai penggerak yang saling berhubungan bertemu.

Ketika berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, infrastruktur jalan dinilai sebagai faktor yang memicu deforestasi, oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami pengaruh infrastruktur untuk merancang intervensi yang dapat mengurangi dampaknya pada konversi hutan.

Studi yang dipimpin CIFOR-ICRAF, bekerja sama dengan Group for the Analysis of Development (GRADE), sebuah pusat penelitian di Peru, sedang menganalisis batas deforestasi dan pengaruh infrastruktur transportasi dalam dinamika penggunaan lahan, yang bertujuan untuk memberikan rekomendasi. Penelitian yang berjudul “Analisis Batas Deforestasi Periode Tahun 2000-2020 dan Pengaruh Infrastruktur Transportasi terhadap Dinamika Tata Guna Lahan dalam Tiga Studi Kasus di Amazon Peru (Analysis of deforestation frontiers 2000-2020 and the influence of transport infrastructure on land use dynamics in three case studies in the Peruvian Amazon)” yang meneliti jalan (infrastruktur aksesibilitas formal) dan jalan kehutanan atau penebangan formal dan informal (infrastruktur aksesibilitas informal) dalam tiga konteks berbeda, yaitu jalan Iquitos-Nauta di wilayah Loreto, proyek jalan multinasional Peru-Brasil di Pucallpa-Cruzeiro do Sul, wilayah Ucayali, dan sektor IIRSA Sur-Las Piedras di wilayah Madre de Dios.

Hasil awal menunjukkan bahwa dinamika deforestasi di hutan Amazon Peru tidak hanya dipengaruhi oleh infrastruktur jalan, namun juga sebagai respons terhadap faktor kontekstual sosio-ekonomi, kelembagaan dan politik. “Faktor kontekstual, atau penyebab mendasar, yang paling berpengaruh pada deforestasi dan infrastruktur jalan adalah kepentingan politik, kontrol dan pengawasan negara, korupsi, serta kapasitas untuk menerapkan kebijakan dan sanksi,” kata Karla Vergara, ahli geografi dan peneliti studi tersebut.

Kasus khusus sektor IIRSA Sur-Las Piedras, perambahan hutan, yang diikuti oleh perluasan infrastruktur seperti jalan dan pemukiman, serta aktivitas pertanian yang terkait dengan tanaman semi permanen, menjadi faktor utama yang memberikan pengaruh langsung ke deforestasi. Namun, faktor-faktor ini merupakan hasil interaksi dari faktor lain, terutama faktor yang tidak bersinggungan langsung, yang memiliki pengaruh pada skala yang berbeda. Selain itu faktor budaya, risiko praktik korupsi juga berpengaruh aktif pada jaringan, diikuti oleh faktor institusional dan politik antara lain, kurangnya alat tata kelola, artikulasi lintas sektoral, dan anggaran publik yang terbatas. Selain itu, hasil pengamatan menunjukkan bahwa kegiatan pertanian komersial, seperti tanaman tahunan dan semi permanen, tidak hanya terkait erat dengan peningkatan pendapatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kelembagaan dan politik yang mendorong perluasan atau pengurangan perluasannya. Dengan kata lain, wilayah yang dikhususkan untuk kegiatan tersebut berfluktuasi karena faktor kelembagaan dan politik, serta perkembangan teknologi khususnya yang berkaitan dengan bantuan teknis.

Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan dua metodologi: DriveNet dan analisis arketipe deforestasi. Metodologi DriveNet, yang dikembangkan oleh CIFOR-ICRAF, menggabungkan pendekatan partisipatif berbagai pemangku kepentingan dengan elemen kontekstualisasi progresif dan analisis metrik jaringan untuk menghasilkan analisis sistemik tentang penyebab deforestasi dan mengidentifikasi interaksi yang mengarahkan para pelaku untuk membuat keputusan yang berdampak pada proses deforestasi dan degradasi hutan di Amazon Peru.

Analisis arketipe berupaya memahami tren lokal dalam kehilangan hutan dengan menemukan pola umum di berbagai kasus deforestasi, dengan tujuan membantu pembuat kebijakan menentukan jenis strategi apa yang paling berhasil dalam situasi tertentu, dan mengapa.

“Penelitian baru ini didasarkan pada integrasi hasil dari analisis arketipe dan DriveNet untuk menganalisis pengaruh infrastruktur jalan pada dinamika penggunaan lahan yang membentuk batas deforestasi di Amazon Peru,” jelas Valentina Robiglio, Senior land use systems scientist dan Lead agroforestry scientist untuk Peru dan Amerika Latin di CIFOR-ICRAF.

Baru-baru ini, hasil awal penelitian tersebut divalidasi dalam sebuah workshop yang dihadiri oleh para ahli dari Layanan Nasional Kawasan Alam yang Dilindungi oleh Negara (National Service of Natural Areas Protected by the State, SERNANP), Masyarakat Hukum Lingkungan Peru (Peruvian Society of Environmental Law, SPDA), Dinas Kehutanan dan Satwa Liar Nasional (National Forestry and Wildlife Service, SERFOR),  ProPurús Association, Re:wild, dan GRADE. Berdasarkan masukan dan kontribusi, rekomendasi penelitian direncanakan akan segera selesai.

“Penelitian ini akan berguna bagi mereka yang tertarik untuk memahami dinamika di dalam batas deforestasi dan peran infrastruktur transportasi beserta faktor kontekstual lainnya dalam konfigurasi spasialnya, dan bagi entitas yang bertugas untuk merancang intervensi yang mengurangi dampak infrastruktur transportasi pada proses deforestasi, ujar Martín Reyes, Peneliti Rekanan di CIFOR-ICRAF dan periset di penelitian tersebut.


Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi: Martín Reyes, Peneliti CIFOR-ICRAF (martin.reyes@cifor-icraf.org).


Penelitian ini merupakan bagian dari proyek besar yang dipimpin oleh GRADE berjudul “Towards sustainable infrastructure in the Peruvian Amazon” yang didanai oleh Gordon and Betty Moore Foundation.

Artikel ini juga tersedia dalam [Bahasa Spanyol]

The post Bagaimana Infrastruktur Transportasi Berpengaruh pada Deforestasi di Amazon Peru appeared first on CIFOR Forests News.


See the rest of the story at mysite.com

Related:
Seeing from all sides: Why we need more women in science
Toucans, tapir and tortoises: Revealing the biological riches of southern Guyana
Congo Basin: Need for more funding to let ‘lungs of Africa’ breathe
Are community rights being upheld in REDD+ safeguards processes and landscapes in East Kalimantan?
Nourishing leadership: Why gender matters in development science
In DRC, Indigenous Peoples and local communities’ inclusion in REDD+ remains a work in progress
Finding common ground for community forest management in Peru
Energy transfer: How one woman scientist aims to spark enthusiasm in the next generation
Framing up the community-centred future of peatland management
For many Indigenous communities, land titles aren’t the same as tenure security
Brasil: a colaboração entre ciência e política é fundamental para o novo plano contra o desmatamento
Indonesia must face up to the heightened risk of drought and fire under El Niño
Guyana: la primera evaluación de la biodiversidad de Karaawaimin Taawa arroja luz sobre su riqueza biológica


source https://forestsnews.cifor.org/83888/bagaimana-infrastruktur-transportasi-berpengaruh-pada-deforestasi-di-amazon-peru?fnl=enid

Post a Comment

Previous Post Next Post